Jadilah Pemaaf

illustrasi lebaran Tujusemesta (EDIT 2)-09Senin Sharing
By : Arum Kartika


Tak terasa, bulan Ramadhan hampir selesai. Umat muslim menyelesaikannya dengan menyambut hari besarnya, yaitu Idul Fitri atau kita kenal juga dengan Hari Lebaran. Pada hari ini, tradisi umat muslim adalah saling memaafkan. Pernahkah kamu berada dalam posisi meminta maaf? Dan pernahkah kamu berada dalam posisi memaafkan? Sulitkah itu? Kali ini, kita akan mencari tahu, mengapa meminta maaf dan memaafkan itu sulit, dan bagaimana cara mengatasinya.

I’m Sorry”

Picture1

Ada sebuah pepatah berkata,

People will blame you if you say too much. They will blame you if you say too little. They will blame you if you say just enough. No one in this world escapes blame. There was and never will be anyone who receives all praise or all blame.“

Tak ada orang di dunia ini yang bisa lolos dari tudingan. Tudingan ini datang terkadang saat kita merasa salah, tetapi terkadang juga saat kita tidak merasa salah dan tetap dipersalahkan. Namun, tahukah kamu besarnya kekuatan maaf? Memohon maaf tidak selalu berarti bahwa kamu salah, dan orang lain benar. Kata “maaf” memiliki satu pesan yang pasti, yaitu bahwa kamu lebih menghargai hubunganmu daripada egomu.

A Perfect Apology

  1. Berikan penjelasan yang detail, hindari penjelasan yang general/umum.

Kuncinya adalah memberikan penjelasan yang sangat spesifik. Beri tahu dia bahwa kamu sangat mengerti apa yang telah terjadi dan mengapa dia kecewa.

  1. Berikan pengertian bahwa kamu memahami perasaannya.

Katakan bahwa kamu sependapat dengannya, karena kamu mengerti bahwa apa yang kamu lakukan telah memberikan luka yang dalam di hatinya. Kamu bahkan dapat mengatakan bahwa jika kamu di posisinya, kamu akan memiliki reaksi yang sama.

  1. Tanggung jawab dari situasi yang ada.

Jangan menjadi defensif atau mencari alasan atas apa yang terjadi. Tujuanmu meminta maaf adalah bahwa kamu memahami bahwa sikapmulah yang membuatnya sakit hati.

  1. Menyertakan kata “maaf”.

Pastikan bahwa kamu dengan tulus hati berkata, “..maafkan saya”. Kalimat ini dan caramu mengucapkannya akan mencairkan hati pihak yang sedang marah.

  1. Janji bahwa ini tidak akan terulang dan kamu meminta maafnya.

Membuat janji bahwa hal ini tidak akan terulang lagi merupakan kunci utama yang membuat kalian berdua dapat melihat ke depan. Janji ini juga membuatnya mengerti bahwa kamu menghargainya dan masih menginginkannya di hari-hari mendatang. Dan meminta maafnya menunjukkan bahwa kamu bertanggungjawab atas sikapmu dan memberinya kuasa untuk melangkah ke healing process.

Ketika kamu berhasil meminta maaf, kebaikannya akan kembali kepadamu. Karaktermu akan semakin terbangun dan sebagai hasilnya, akan membuat kamu dan temanmu menjadi lebih dekat.

“I Forgive You”

Picture4

Kawan, ternyata kekuatan mental bukan tertumpu pada pihak yang meminta maaf, tetapi pada yang memaafkan. Mengapa?Karena di dalamnya ada rasa dendam dan  addicted dengan adrenalin kemarahan. Atau di sisi lain, kamu menikmati merasa superior dan sebaliknya, merasa jadi korban. Atau mungkin juga kamu takut dengan memaafkan, kamu harus memulai lagi hubungan dengan temanmu itu dari nol. Dan kamu harus melawan perasaan-perasaan itu untuk memaafkan.

Tapi, jika kamu ingin masalah ini selesai, atasilah dengan mengenali kembali dirimu, pikiran dan perasaanmu, serta batasan dan kebutuhanmu. Sebelum memulai, jawablah pertanyaan ini: maukah kamu memaafkannya?

Memaafkan butuh “kemauan” sebelum melanjutkan ke fase berikutnya. Terkadang kamu menolak, karena sakitnya terasa terlalu dalam, atau orang tersebut terlalu kasar, atau tidak menampakkan penyesalan. Jangan memaafkan sebelum kamu memahami, merasakan, mengekspresikan, dan melepaskan kemarahanmu.

How to Forgive

  1. Pikirkan peristiwa yang membuatmu marah.

Terima kenyataan. Terima apa yang kamu rasa dan apa reaksimu. Agar dapat memaafkan, kamu perlu menyelami kejadian tersebut dan mengetahui di bagian mana kamu tersakiti.

  1. Pahami pendewasaan yang kamu alami dari apa yang terjadi.

Renungkan kembali, apa yang dapat kamu pelajari dari kejadian tersebut? Mungkin tentang dirimu, kebutuhanmu, atau batasan-batasanmu. Dengan ini, kamu tidak hanya selamat dari insiden. Kamu bahkan dapat tumbuh dan mendewasa.

  1. Sekarang, pikirkan tentang orang tersebut.

Dia melakukan kesalahan, karena semua orang melakukan kesalahan. Dia bertindak dengan sudut pandang yang berbeda, karena semua orang memiliki sudut pandangnya masing-masing. Ketika kamu tersakiti, orang lain sedang berusaha memenuhi kebutuhannya. Kira-kira, apa kebutuhannya dan mengapa dia melakukannya dengan cara yang menyakitkan?

  1. Terakhir, putuskan mau atau tidak untuk mengatakan pada orang tersebut bahwa kamu sudah memaafkannya.

Jika kamu memutuskan untuk tidak mengatakannya secara langsung, maka katakanlah pada dirimu sendiri. Ucapkan yang keras, “aku memaafkanmu,” dan berikan penjelasan sebanyak mungkin yang ingin kamu ungkapkan.

Memaafkan akan menutup luka hatimu. Kamu pasti akan tetap ingat apa yang terjadi, tapi kamu tidak akan terikat lagi dengannya. Kamu telah belajar untuk lebih berhati-hati di masa depan. Bagaimanapun, memaafkan adalah cara yang indah untuk menghargai dirimu. Seakan kamu mengumumkan pada semesta bahwa kamu juga berhak bahagia. Ingatlah sebuah pepatah,

“The first to apologize is the bravest. The first to forgive is the strongest. The first to forget is the happiest.”

Pada akhir sharing ini, kami di tujusemesta melakukan sebuah tantangan. Kami mengingat sebuah kesalahan yang belum kami maafkan hingga saat ini, lalu kami tulis dalam kertas. Kemudian, kami buang kertas itu sambil berkata, “aku memaafkanmu.”

Dapatkah kamu melakukannya juga? And be a happier person afterwards.

Picture5

Advertisements

Us

Senin Sharing by:
Chairun Siregar


Menyambung dari pembahasan sebelumnya tentang “sublime & beauty”. Jika kita renungi, kita dapat merasakan kemegahan dari sublime tersebut karena ada yang lebih besar dari kita. Kali ini, kita akan mengenali dan menyadari kembali sebesar apa kita. Sebelum itu, mari simak pidato dari seorang astronom yang bernama Carl Sagan.

E1

We succeeded in taking that picture, and, if you look at it, you see a dot. That’s here. That’s home. That’s us. On it, everyone you ever heard of, every human being who ever lived, lived out their lives.
The aggregate of all our joys and sufferings, thousands of confident beliefs, ideologies, and economic doctrines,
every hunter and forager,
every hero and coward,
every creator and destroyer of civilizations,
every king and peasant,
every young couple in love, every hopeful child, every mother and father,
every inventor and explorer,
every teacher of morals, every corrupt politician,
every superstar, every supreme leader,
every saint and sinner in the history of our species,
lived there-on a mote of dust, suspended in a sunbeam.

The Earth is a very small stage in a vast cosmic arena. Think of the rivers of blood spilled by all those generals and emperors so that in glory and in triumph they could become the momentary masters of a fraction of a dot. Think of the endless cruelties visited by the inhabitants of one corner of the dot on scarcely distinguishable inhabitants of some other corner of the dot. How frequent their misunderstanding, how eager they are to kill one another, how fervent their hatreds. Our posturings, our imagined self-importance, the delusion that we have some privileged position in the universe, are challenged by this point of pale light.

The Earth is the only world known so far to harbor life. There is nowhere else, at least in the near future, to which our species could migrate. Visit, yes. Settle, not yet. Like it or not, for the moment the Earth is where we make our stand.

It has been said that astronomy is a humbling and character-building experience. There is perhaps no better demonstration of the folly of human conceits than this distant image of our tiny world. To me, it underscores our responsibility to deal more kindly with one another, and to preserve and cherish the pale blue dot, the only home we’ve ever known.

-Carl Sagan (astronomer)
Speech at Cornell University, October 13, 1994.

us1

Benarkah kita sekecil itu? Ada sebuah sudut pandang lain yang tidak kalah menarik.

 

us3.png

 

Sadarkah kamu, unsur-unsur tersebut juga ada dalam tubuh kita? Jadi sebenarnya sebesar apa kita? Ini kata Neil deGrasse Tyson.

Ternyata, kita kecil dibandingkan benda-benda kosmik di alam semesta, namun kita sendiri adalah alam semesta. Kita kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang ada di jagad raya, pantaskah bertinggi-hati? Kita sebagai alam semesta pun jangan merasa terpisah darinya. Bersikaplah sebagaimana kita menyayangi diri kita sendiri. Mari kita jaga, pelajari, dan jelajahi “diri kita” ini. Dan, jika kamu menyadari : “every photograph is the universe taking a selfie”

Between Sublime & Beauty

Poster Sharing Esa-11Senin Sharing by :
Esa Apriansyah


Istilah “indah” sangat akrab di telinga kita, telah kita pahami maknanya sehingga dapat kita sertakan dalam ungkapan kalimat sehari-hari. Namun, pernahkah kamu mendengar tentang “sublim”? Tahukah kamu, bahwa sublim memiliki makna yang dekat dengan keindahan tapi berbeda? Kali ini, kami akan ajak untuk mengenal lebih dekat tentang keindahan dan sublim.

Bermula dari studi tentang nilai-nilai sensorik atau sensori-emosional, yang mendalami mengenai penilaian sentimen dan rasa. Muncullah buah renungan dari keindahan dan sublime. Keindahan berkaitan dengan kualitas dari sebuah objek yang menyebabkan orang merasa senang atau suka pada objek tersebut. Sedangkan sublime adalah perasaan terkuat yang sanggup untuk dirasakan dari sebuah objek yang dilihat. Biasanya terinspirasi dari kekaguman dan penghormatan pada kekuatan yang maha besar.

Picture1
Sublime

Bagi Kant, keindahan terhubung dengan bentuk objek dan memiliki batasan-batasan, sedangkan sublime dapat ditemukan dalam sebuah objek berbentuk, yang diwakili oleh ketakterbatasan. Kemudian dilengkapi oleh Schopenhauer bahwa perasaan indah muncul ketika melihat suatu objek yang mengundang kita untuk mengatasi individualitas/ego.

Picture4
Beauty

Agar lebih jelas, mari kita lihat contohnya dalam perbandingan objek.

Sublime Beauty
Sangat Luas Dapat dijangkau
Keras Halus, lembut
Maha besar Memiliki ukuran
Mengancam Tidak mengancam
Rasa sakit Rasa senang
Hitam Putih

Karena keindahan ini memunculkan perasaan senang, maka manusia mencoba menduplikasikannya atau mengungkapkannya dalam berbagai cara. Salah satunya melalui karya seni. Dalam era romantik, para seniman mengungkapkannya dengan menyajikan sebuah keagungan. Sedangkan pada era realisme keindahan berarti menyajikan sesuatu apa adanya.

 

Apa yang menyebabkan kita bisa merasakan keindahan?

Bidang ilmunya bernama neuroaesthetic, yakni pendekatan sains dalam kajian estetika di wilayah seni, musik, dan objek yang dapat menumbuhkan penilaian estetis. Ilmu ini menemukan bahwa penilaian estetis sangat bergantung pada pengolahan informasi pada visual cortex. Penelitian mengatakan bahwa prefrontal cortex dorsalateral (PDC) bereaksi ketika rangsangan dianggap indah sedangkan aktivitas prefrontal (otak bagian depan) secara keseluruhan aktif selama rangsangan menilai objek yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan.

Picture3
Visual Cortex

Nah, sekarang kamu mengerti bukan, mengapa arsitektur bangunan ibadah dibuat besar dan megah?

Picture2
“melihat suatu objek yang mengundang kita untuk mengatasi ego”

Mari Berpuasa

Senin Sharing Arum-09Senin sharing by :
Arum Kartikaningbudi

Salah satu ibadah yang dilakukan umat muslim adalah berpuasa. Dalam satu tahun, setidaknya umat muslim berpuasa selama satu bulan, yakni di Bulan Ramadhan pada Kalender Hijriah. Umat muslim memulai dan menyelesaikan puasanya pada batas-batas hari, tepatnya  dimulai saat fajar dan berakhir pada senja. Sehingga, lamanya puasa umat muslim dalam sehari bisa beragam, tergantung di negara mana kamu berada. Misalnya pada tahun 2014, lama puasa di Australia sekitar 9 jam, sedangkan di Eropa dapat mencapai 20 jam. Namun, di balik usaha menahan lapar dan dahaga ini, ternyata puasa banyak bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita, diantaranya :

  • pemecahan cadangan lemak
  • tekanan darah yang lebih mudah terkontrol
  • proses peremajaan sel-sel tubuh
  • penurunan berat badan
  • perbaikan lemak darah
  • perbaikan gula darah
  • anti penuaan
  • detoksifikasi

Mengapa bisa? Nah, beginilah yang terjadi dalam tubuh kita.

  1. ORGAN PENCERNAAN akan beristirahat bekerja dan saatnya membersihkan dirinya. Puasa memberikan kesempatan bagi organ pencernaan untuk membersihkan sisa-sisa pencernaan yang ada di dalamnya dan mengeluarkan racun yang sudah menumpuk.

ANatomy of human digestive system

  1. LIVER memproduksi ketone. Sebagian dari kelebihan lemak yang dikonsumsi, diangkut dari sel usus halus oleh darah ke liver untuk disimpan dalam bentuk jaringan adipose. Lemak yang disimpan dalam liver ini juga dapat diurai kembali melalui suatu proses rumit yang terjadi dalam liver. Liver mengurai asam lemak dan menghasilkan ketone yang dilepas ke darah sebagai salah satu bahan pembentuk tenaga dalam sel.
  1. JANTUNG dapat mengalirkan darah ke anggota tubuh yang lain. Darah yang dipompa oleh jantung ke organ pencernaan akan lebih sedikit, sehingga jantung akan memompa lebih banyak darah ke bagian lain dari tubuh, termasuk di antaranya otak.

lungs

  1. PARU-PARU mengeluarkan racun-racun tubuh. Seseorang yang menjalankan puasa, bahan racun yang ada di dalam tubuh akan dikeluarkan melalui proses air kencing dan juga melalui pernafasan. Proses berpuasa itu seperti orang yang melakukan istirahat tubuhnya. Itu berarti sama dengan membersihkan racun-racun di dalam tubuh.
  1. GINJAL lebih mudah menyerapair dan garam karena aktivitas dialisis meningkat.
  2. SUHU TUBUH menurun, karena metabolisme menurun.
  3. SEL DARAH PUTIH bertambah.
  4. Mengurangi nutrisi pada pertumbuhan abnormal seperti KANKER, TUMOR, VIRUS, BAKTERI.

 

Pada dasarnya, keefektifan organ-organ tersebut bekerja sesuai dengan bagaimana pula kita beraktivitas pada hari itu. Jika kita perlakukan dengan tidak benar, seperti buka puasa dengan terlalu banyak minyak dan gula yang tidak sehat, tentunya sistem yang telah diperbaiki selama 13 jam berpuasa akan sia-sia saja. Puasa bukan perihal “menahan”, tapi “melatih” lapar, dahaga, dan nafu, dan “mereset” kerja organ dalam tubuh kita, yang pada akhirnya juga berpengaruh pada sikap dan perilaku kita. Seperti pepatah asing berkata, you are what you eat. Prinsip “melatih nafsu” tidak hanya dilakukan pada saat berpuasa saja, tetapi juga setelah berbuka puasa hingga sahur. Bukan berarti tidak boleh makan enak, tapi usahakan tidak berlebihan. Makanan yang enak juga ada yang sehat, lho. Maka, ketika kamu mengadakan buka puasa bersama teman-teman, pilihlah menu berbuka yang ramah pada organ-organmu dan hargai latihanmu sepanjang siang tadi.

4fbf7167761509079eba85df0b133d84