Between Sublime & Beauty

Poster Sharing Esa-11Senin Sharing by :
Esa Apriansyah


Istilah “indah” sangat akrab di telinga kita, telah kita pahami maknanya sehingga dapat kita sertakan dalam ungkapan kalimat sehari-hari. Namun, pernahkah kamu mendengar tentang “sublim”? Tahukah kamu, bahwa sublim memiliki makna yang dekat dengan keindahan tapi berbeda? Kali ini, kami akan ajak untuk mengenal lebih dekat tentang keindahan dan sublim.

Bermula dari studi tentang nilai-nilai sensorik atau sensori-emosional, yang mendalami mengenai penilaian sentimen dan rasa. Muncullah buah renungan dari keindahan dan sublime. Keindahan berkaitan dengan kualitas dari sebuah objek yang menyebabkan orang merasa senang atau suka pada objek tersebut. Sedangkan sublime adalah perasaan terkuat yang sanggup untuk dirasakan dari sebuah objek yang dilihat. Biasanya terinspirasi dari kekaguman dan penghormatan pada kekuatan yang maha besar.

Picture1
Sublime

Bagi Kant, keindahan terhubung dengan bentuk objek dan memiliki batasan-batasan, sedangkan sublime dapat ditemukan dalam sebuah objek berbentuk, yang diwakili oleh ketakterbatasan. Kemudian dilengkapi oleh Schopenhauer bahwa perasaan indah muncul ketika melihat suatu objek yang mengundang kita untuk mengatasi individualitas/ego.

Picture4
Beauty

Agar lebih jelas, mari kita lihat contohnya dalam perbandingan objek.

Sublime Beauty
Sangat Luas Dapat dijangkau
Keras Halus, lembut
Maha besar Memiliki ukuran
Mengancam Tidak mengancam
Rasa sakit Rasa senang
Hitam Putih

Karena keindahan ini memunculkan perasaan senang, maka manusia mencoba menduplikasikannya atau mengungkapkannya dalam berbagai cara. Salah satunya melalui karya seni. Dalam era romantik, para seniman mengungkapkannya dengan menyajikan sebuah keagungan. Sedangkan pada era realisme keindahan berarti menyajikan sesuatu apa adanya.

 

Apa yang menyebabkan kita bisa merasakan keindahan?

Bidang ilmunya bernama neuroaesthetic, yakni pendekatan sains dalam kajian estetika di wilayah seni, musik, dan objek yang dapat menumbuhkan penilaian estetis. Ilmu ini menemukan bahwa penilaian estetis sangat bergantung pada pengolahan informasi pada visual cortex. Penelitian mengatakan bahwa prefrontal cortex dorsalateral (PDC) bereaksi ketika rangsangan dianggap indah sedangkan aktivitas prefrontal (otak bagian depan) secara keseluruhan aktif selama rangsangan menilai objek yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan.

Picture3
Visual Cortex

Nah, sekarang kamu mengerti bukan, mengapa arsitektur bangunan ibadah dibuat besar dan megah?

Picture2
“melihat suatu objek yang mengundang kita untuk mengatasi ego”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s