Minangkabau

Senin sharing by :
Annisa Melinda Jamal


Minangkabau atau yang biasa disingkat Minang adalah kelompok etnis Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibu kota provinsi Sumatera Barat yaitu Kota Padang. Namun, masyarakat ini biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan “urang awak”, yang artinya sama dengan orang Minang itu sendiri.

Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang dikenal di dalam tambo (karya sastra sejarah yang merekam kisah-kisah legenda-legenda yang berkaitan dengan asal usul suku bangsa, negeri dan tradisi dan alam Minangkabau).

Dari tambo tersebut, konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing (biasa ditafsirkan sebagai Majapahit) yang datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau, yang berasal dari ucapan “Manang kabau” (artinya menang kerbau).

Rumah Adat

Di Minangkabau, rumah tempat tinggal dikenal dengan sebutan Rumah Gadang (Besar), atau kadang-kadang disebut juga dengan Rumah Bagonjong. Besar bukan hanya dalam pengertian fisik, tetapi lebih dari itu, yaitu dalam pengertian fungsi dan peranannya yang berkaitan dengan adat. Tingginya penilaian orang Minangkabau dengan rumah adatnya dikemukakan dengan kiasan atau perumpamaan berikut:

“Rumah gadang sambilan ruang, salajang kudo balari, sapakiek budak maimbau, gonjongnya rabuang mambasuik, antieng-antiengnyo disemba alang, parabuangnyo si ula gerang, batatah si timah putiah, rusueknyo tareh limpato, cucuran atoknyo alang babega, saga tasusun sarupo bada mudiek. Parannyo si ula gerang, batata aie ameh, salo-manyalo aie perak. Jariaunyo puyuah balari, dindieng ari dilanja paneh, tiang tapi panague jamu……”

Rumah Gadang didirikan di atas tanah kaum yang bersangkutan. Jika hendak didirikan, panghulu dari kaum tersebut mengadakan musyawarah terlebih dahulu dengan anak kemenakannya. Setelah dapat kata sepakat dibawa kepada panghulu-panghulu yang ada dalam persukuan dan seterusnya dibawa kepada panghulu-panghulu yang ada di “nagari” (negeri).

Untuk mencari kayu diserahkan kepada orang kampung dan sanak keluarga. Tempat mengambil kayu pada hutan ulayat suku atau ulayat nagari. Tukang yang mengerjakan rumah tersebut berupa bantuan dari tukang-tukang yang ada dalam nagari atau diupahkan secara berangsur-angsur.

Dilihat dari cara membangun, memperbaiki dan membuka (merobohkan) rumah gadang, ada unsur kebersamaan dan kegotongroyongan sesama anggota masyarakat tanpa mengharapkan balas jasa. Fungsi sosial sangat diutamakan dari fungsi utamanya.

Tari piring/Tari Piriang

minang8

Tarian ini menggambarkan rasa kegembiraan tatkala musim panen tiba. Para muda-mudi mengayunkan gerak langkah dengan menunjukkan kebolehannya dalam mempermainkan piring di tangannya. Ritual rasa syukur ini dilakukan oleh beberapa gadis cantik dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang diletakkan di dalam piring. Para gadis didandani dengan pakaian yang bagus lalu membawa makanan dalam piring tersebut dengan gerakan yang dinamis. Setelah Islam masuk Minangkabau, tradisi tarian ini tetap diteruskan, tapi hanya sebagai hiburan bagi masyarakat. Tarian ini diiringi musik talempong, rebab atau rabab dan saluang.

Alat Musik

Alat musik minang

  1. Talempong. Alat musik pukul tradisional khas suku Minangkabau yang satu ini entuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu.
  2. Saluang. Saluang termasuk alat musik tiup. Alat musik tradisional minangkabau ini terbuang dari ‘talang’ yang merupakan sejenis bambu tapi lebih tipis.
  3. Tambua Tasa. Alat musik pukul yang sampai saat ini masih sering digunakan, terutama pada saat acara adat. Alat musik ini terdiri dari dua alat yaitu Gandang Tambua dan Gandang Tasa.
  4. Rabab. Rabab adalah alat musik tradisional minangkabau yang mirip dengan biola. Dikatakan mirip karena dari segi bentuk memang hampir sama dan cara memainkannya pun sama yaitu dengan digesek.

Menarik, bukan? Masih ada banyak hal lagi yang seru tentang adat Minangkabau. Saya tambahkan beberapa bonus mengenai kebudayaan ini.

 

Baju Adat

baju adat minang

Kuliner

Bahasa Minang

  1. Ba a kaba? Lai aman-aman se? (Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan?)
  2. Untuk percakapan dengan teman, yang sering dipakai adalah kata “Awak”. Untuk sebutan yang lebih kasar (biasanya percakapan santai antar para pria), bisa pakai kata “Aden” (kata ini haram untuk diucapkan wanita). “Denai”. Bisa juga pakai “Ambo”, tapi jarang sekali digunakan.
    Perempuan lebih sering menyebut namanya daripada memakai kata “Awak”.
  3. Kamu
    Orang Padang menyebut lawan bicara langsung dengan nama mereka. Jadi mungkin (setahu saya) tidak ada kata “Kamu” dalam bahasa ini. Dalam bahasa Padang yang lebih kasar, mereka mengganti kata “Kamu” dengan “Ang”. Contoh: “Manga ang ka siko?” (Kenapa kamu kesini?)
  4. Dia = Inyo
  5. Sebutan untuk perempuan yang lebih tua atau dihormati = Uni
  6. Sebutan untuk pria yang lebih tua atau dihormati = Uda
  7. Uang = Pitih
  8. Perempuan = Padusi
  9. Jangan = Jan
  10. Beri = Agiah
  11. Celana = Sarawak
  12. Belum = Alun
  13. Sudah = Alah
  14. Saja = Se
  15. Besar = Gadang
  16. Apa = Apo, disingat A
  17. Bagaimana = Bagaimano, disingkat Ba
  18. Berapa = Barapo, disingkat Bara
  19. Dimana = Dimano, disingkat Dima
  20. Darimana = Dari mano, disingkat Dari ma
  21. Siapa = Siapo, disingkat Sia
  22. Kapan = Bilo
  23. Mengapa = Mangapo, disingkat Manga
  24. Kenapa = Dek a

Sekian perkenalan dengan adat Minangkabau. Mudah-mudahan kamu semakin bangga ya, dengan kekayaan budaya kita!


Sumber :

http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/07/pakaian-adat-sumatera-barat-padang-minangkabau.html

http://staff.unand.ac.id/ronisaputra/wp-content/uploads/sites/995/2014/06/

http://pesta-pernikahan.com/article/pengantin-koto-gadang-dari-minangkabau

https://taritradisional.wordpress.com/2013/08/03/properti-yang-digunakan-pada-tari-piring/

https://www.infosumbar.net/artikel/8-alat-musik-tradisional-minangkabau-yang-perlu-kamu-tahu/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s