Blog

Local Guide ala Surabaya

Senin Sharing by :
M. Akbar Dije
(Arek Suroboyo yang lahir di Bandung)


Siapa yang tak kenal Surabaya? Ibukota Jawa Timur ini merupakan kota kedua terbesar di Indonesia setelah Jakarta. Kota yang memiliki jalan raya yang dapat menampung 7 jalur ini (Jl. A.Yani dan Frontage Road), merupakan dataran rendah sehingga suhunya berkisar antara 26-35° C. Di utara, Surabaya berbatasan langsung dengan Selat Madura dan juga merupakan salah satu jalur utama perdagangan & perindustrian via laut. Tanjung Perak adalah pelabuhan yang menunjang kesibukan ini. Di Selat Madura ini pula dibangun Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 km yang merupakan jembatan terpanjang se-Indonesia, menghubungkan Pulau Jawa dan Madura.

|| ASAL USUL SURABAYA

Ada beberapa pendapat mengenai asal usul nama Surabaya. Pertama, berasal dari kata “Sura ing Bhaya” atau “keberanian menghadapi bahaya” atas keberhasilan Raden Wijaya (Raja Majapahit yang pertama) mengalahkan pasukan Mongol. Kedua, dari cerita rakyat mengenai Sura (hiu putih) dan Baya (buaya) yang memperebutkan daerah kekuasaan untuk kebutuhan makanan. Daerah perebutan ini berlokasi di Kota Surabaya sekarang. Cerita rakyat tersebut diabadikan dalam sebuah Monumen, dengan Sang Sura dan Sang Baya saling melilit sehingga membentuk huruf S.

Surabaya 1
Monumen Suro (hiu putih) & Boyo (buaya)

|| TEMPAT WISATA/LANDMARK

Kota Surabaya dijuluki kota Pahlawan karena peristiwa bersejarah yang terjadi pada 10 November 1945. Pada saat itu, Indonesia yang baru 3 bulan memproklamirkan kemerdekaan, bertempur hingga titik darah penghabisan untuk melawan tentara dari Inggris dan menewaskan salah satu pemimpin Inggirs (Aws Mallaby). Pertempuran ini begitu dahsyat hingga tanggal 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan dan sebagai landmarknya dibuatlah Tugu Pahlawan tepat di area perang. Selain di Tugu Pahlawan, Pertempuran 10 November juga berlokasi di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit), yakni peristiwa perobekan warna biru pada bendera Belanda, adapun Jembatan Merah sebagai tempat pertempuran “arek-arek Suroboyo”.

Hotel Yamato.png
Hotel Yamato (dulu-kiri) atau Hotel Majapahit (sekarang-kanan)

Bangunan unik lainnya yang juga sering menjadi tempat wisata adalah Masjid Muhammad Cheng Ho dan Makam Peneleh. Masjid Muhammad Cheng Ho adalah masjid yang bernuansa oriental, dan dibangun untuk mengenang perjuangan dakwah Laksamana Cheng Ho yang memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam di nusantara, terutama di bagian timur Pulau Jawa. Sedangkan Makam Peneleh adalah makam kuno yang dibangun pada zaman Belanda pada sekitar tahun 1814, namun sudah memiliki kompleks dan catatan pemakaman yang rapi.

Selain bangunan-bangunan bersejarah, di Surabaya juga terdapat bangunan-bangunan baru. Bagi start-up muda maupun orang-orang yang bergerak di bidang industri kreatif, Pemkot Surabaya menyediakan Koridor Co-working Space yang dibuka 24 jam dan gratis. Walaupun atas prakarsa Pemerintah Kota, Co-working Space ini didesain dengan interior yang dekat dengan generasi muda masa kini alias tidak ketinggalan zaman, namun tetap mengangkat unsur-unsur budaya lokal dengan cara yang “muda”.

Koridor
Koridor Co-Working Space

Tidak hanya itu, Pemkot Surabaya juga giat membuat taman kota. Di bagian utara Surabaya, ada Surabaya North Quay, tempat kita bisa menikmati keindahan matahari tenggelam sambil menyaksikan kapal-kapal pesiar yang biasanya singgah di Pelabuhan Tanjung Perak. Juga ada Jembatan suroboyo yang berlokasi di dekat Pantai Kenjeran untuk memanjakan mata memandang matahari terbit pada pagi hari dan air mancur pelangi pada malam hari. Sedangkan untuk memfasilitasi warganya berinteraksi, kini ada Taman Bungkul. Taman Bungkul berlokasi di Jalan Darmo yang biasanya dijadaikan sebagai area car free day (CFD) di Surabaya dan memiliki banyak jajanan yang asyik menggoyang lidah, salah satunya Semanggi Surabaya.

KULINER SURABAYA

Semanggi Surabaya mirip seperti pecel, tetapi sayurnya adalah daun semanggi dan sausnya/kuahnya terbuat dari ketela rambat, disajikan dengan Kerupuk Puli. Hmm, nyam-nyam! Berikut ini cuplikannya.

Selain Semanggi Surabaya, juga ada Rawon Kalkulator, Sego Campur, Soto Ayam Cak Har, dan Bebek Sinjay yang dijamin membuat kita lapar seketika.

Sebagai penutup hidangan, di Surabaya ada sebuah toko es krim legendaris yang wajib didatangi dan sangat terkenal, namanya Zhangradi. Pasti pernah mendengarnya, kan?

Sekian perkenalan dari Surabaya. Sudah siapkah menikmati destinasi wisata dan kuliner yang ada di Kota Pahlawan ini?

Advertisements

Pernikahan Adat Jawa

Senin sharing by :
Arum Kartika


Dalam setiap adat istiadat, selalu mengandung pesan moral yang ditanam hingga berbuah menjadi satu pola sikap yang mencerminkan suku tersebut. Di pernikahan adat jawa, setiap rangkaiannya sarat makna dan ternyata beberapa berdasar pada legenda yang sering kita dengar. Seperti apakah maknanya? Yuk kita simak!

PRA ACARA

Siraman & midodareni sudah termasuk rangkaian upacara adat jawa, biasanya dilaksanakan sehari sebelum ijab qobul/acara puncak. Setiap rantainya memiliki makna dan pengharapan yang mulia. Rangkaian acaranya adalah sebagai berikut :

  1. Pasang Tarub
  2. Pasang Tuwuhan
  3. Kembar Mayang
  4. Siraman
  5. Dodol Dawet
  6. Midodareni

Pasang Tarub

Tarub maksudnya atap kajang, anyaman daun nipah atau kelapa. Dibangun sebagai atap tambahan apabila ada acara tertentu. Namun kini khusus digunakan untuk pernikahan. Asal mulanya dari kisah Jaka Tarub, ketika hendak menikah dengan Dewi Nawangwulan. Ia membangun atap tambahan dan menghiasnya dengan tetumbuhan termasuk diantaranya janur kuning, sebagai pertanda ia akan menikah.

Pasang Tuwuhan

Tuwuhan (Tumbuhan) berfungsi sebagai dekorasi dipasang di pintu masuk menuju tempat duduk pengantin, masing-masing mempunyai makna :

  • Janur : agar pengantin memperoleh nur atau cahaya terang dari Yang Maha Kuasa.
  • Daun kluwih : semoga hajatan tidak kekurangan sesuatu, jika mungkin malah dapat lebih (luwih) dari yang diperhitungkan.
  • Daun beringin dan ranting-rantingnya : semoga cita-cita atau keinginan yang didambakan mudah-mudahan selalu terlaksana.
  • Daun dadap serep : dari suku kata “rep” artinya dingin, sejuk, teduh, damai, tenang tidak ada gangguan apa pun.
  • Seuntai padi (pari sewuli) : Melambangkan semakin berisi semakin merunduk. Diharapkan semakin berbobot dan berlebih hidupnya, semakin ringan kaki dan tangannya, dan selalu siap membantu sesama yang kekurangan.
  • Cengkir gadhing / Air kelapa muda adalah air suci bersih, dengan lambang ini diharapkan cinta mereka tetap suci sampai akhir hayat.
  • Setundhun gedang raja suluhan : semoga kelak mempunyai sifat seperti raja hambeg para marta, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
  • Tebu wulung watangan : kemantapan hati (anteping kalbu), jika sudah mantap menentukan pilihan sebagai suami atau istri, tidak tengok kanan-kiri lagi.
  • Kembang lan woh kapas (bunga dan buah kapas) : Harapannya agar kedua pengantin kelak tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan. Selalu pas, tetapi tidak pas-pasan.
  • Kembang setaman dibokor : harapannya agar kehidupan kedua pengantin selalu cerah ibarat bunga di taman.

Kembar Mayang

Kembar mayang adalah sepasang mayang atau bunga yang melambangkan cinta kasih. Sering disebut juga “kusumasmara”. Namun hanya dimiliki oleh para Dewa. Alkisah, perkawinan Arjuna dan Subadra sangat indah, dan atas keinginan Sri Kresna, para dewa meminjamkan “kembar mayang” untuk pernikahan ini.  Kembar mayang sangat penting bagi adat jawa. Ia disertakan pada seluruh upacara, terutama siraman dan acara panggih.

1
kiri atas : Pasang Tarub; kiri bawah : Tuwuhan ; kanan : Kembar Mayang

Siraman

Siraman sebagai simbolisasi dari pembersihan diri lahir & bathin dari calon mempelai, juga memohon restu dari para pinisepuh. Terinspirasi dari kisah Ande-ande lumut. Menggunakan air kembang setaman, yakni mawar, melati, kenanga, cempaka; kendi dari perunggu/tembaga; air dari tujuh mata air; dsb.

2
Rangkaian Siraman

Dodol Dawet

Dodol Dawet atau jual dawet dilakukan saat calon pengantin yang telah selesai siraman, sedang didandani di kamarnya.Dodol Dawet atau jual dawet dilakukan saat calon pengantin yang telah selesai siraman, sedang didandani di kamarnya. Dawet yang dijual berbentuk bulat, melambangkan kebulatan tekad orangtua untuk menikahkan anaknya. Dodol Dawet dilakukan oleh ayah ibu calon mempelai, sebagai contoh bagi anaknya, dalam mencari nafkah suami istri harus saling membantu.

Midodareni

Midodareni diambil dari kata “widadari” atau bidadari. Masyarakat Jawa percaya para bidadari turun untuk memberi restu pada CPW sehingga menjadi cantik seperti para bidadari. Pada malam ini, suasana harus tenang dan khusyu’, bahkan berbicara pun sebaiknya berbisik. Juga sebaiknya CPW tidak tidur sehingga, kata lain dari malam ini adalah “wungon” atau “lek-lekan”.Midodareni diambil dari kata “widadari” atau bidadari. Masyarakat Jawa percaya para bidadari turun untuk memberi restu pada CPW sehingga menjadi cantik seperti para bidadari. Pada malam ini, suasana harus tenang dan khusyu’, bahkan berbicara pun sebaiknya berbisik. Juga sebaiknya CPW tidak tidur sehingga, kata lain dari malam ini adalah “wungon” atau “lek-lekan”. Selain itu, ada pula “nyantri”; yaitu calon pengantin pria datang ke kediaman calon pengantin wanita. Namun tidak boleh sama sekali bertemu dengan calon pengantin wanitanya. Malam midodareni (juga) terinspirasi dari kisah Jaka Tarub.

3
Midodareni, calon pengantin wanita menunggu di dalam kamar, sedangkan calon pengantin pria memastikan kehadirannya esok.

ACARA UTAMA

| Panggih

Panggih artinya bertemu. Setelah sekian lama dipingit, kedua mempelai akhirnya bertemu. Ada 16 upacara yang termasuk dalam upacara panggih :

  1. Upacara Lempar Sadak
  2. Upacara Wijidadi
  3. Upacara Sindur
  4. Upacara Nimbang
  5. Upacara Nandur
  6. Upacara Kacarkucur
  7. Upacara Dulangan
  8. Upacara Jemput Besan
  9. Upacara Rujak Degan
  10. Upacara Cincin
  11. Upacara Sungkeman
  12. Pidato
  13. Upacara Pemberian Restu
  14. Upacara Kirab
  15. Perjamuan Dahar
  16. Upacara bubaran

|| Panggih: Lempar Sadak

Sadak atau gantal adalah daun sirih yang digulung, dan di dalamnya diisi enjet (apu) dan jambe, lalu diikat benang. Sadak sering diartikan sebagai simbol kasih sayang. Rumahtangga, bagaimanapun rukunnya tentu akan mengalami perselisihan, ibarat piring akan tetap berbenturan saat dicuci. Tidak dapat dihindari, namun tetap dijaga jangan sampai pecah. Artinya, dalam hidupnya nanti suami istri saling mendahului untuk menyelesaikan perselisihannya, dengan jalan saling mendahulukan “sadak”.

|| Panggih: Wijidadi

Wijidadi = benih jadi. Ini adalah doa dari seluruh keluarga bahwa perkawinan ini akan berhasil memenuhi tugas hayatinya, yakni memiliki keturunan. Upacara ini juga disebut “ngidak endhog”. Diharapkan sang istri bisa “menyediakan” telur yang sehat, dan sang suami dapat memecahkannya sehingga lahirlah keturunan dari keluarga ini.

|| Panggih: Sindur

Isin = isin mundur, artinya pantang menyerah atau pantang mundur. Maksudnya pengantin siap menghadapi tantangan hidup dengan semangat berani karena benar.

Ayah membimbing, ibu menyelimuti. Pada waktu mengenakan kain sindur tersebut, Sang ibu dalam ciptanya mengucapkan niat dan restunya untuk menyatukan kedua pengantin.

|| Panggih: Nimbang

Di kursi pelaminan, ayah memangku pengantin pria di sebelah kanan, dan wanita di sebelah kiri, kemudian berkata, keduanya sama berat.Di kursi pelaminan, ayah memangku pengantin pria di sebelah kanan, dan wanita di sebelah kiri, kemudian berkata, keduanya sama berat. Artinya, bahwa sesudah menjadi suami istri, orangtua pengantin wanita mengannggap anak menantunya sama dengan anak kandungnya sendiri, sehingga keduanya akan direngkuh sama dengan kasih sayang yang sama pula.

|| Panggih: Kacarkucur

Simbolisasi Suami / pengantin pria menyerahkan hasil jerih payahnya kepada istri, dengan mengucurkan hasil bumi (padi) dan mata uang logam ke pangkuan sang istri, lalu sang istri membungkusnya dengan rapi tanpa ada yang tercecer. Simbolisasi Suami / pengantin pria menyerahkan hasil jerih payahnya kepada istri, dengan mengucurkan hasil bumi (padi) dan mata uang logam ke pangkuan sang istri, lalu sang istri membungkusnya dengan rapi tanpa ada yang tercecer. Upacara ini dilambangkan agar suami tidak lupa pada kewajibannya untuk menyerahkan hasil jerih payahnya kepada istrinya, dan sang istri berkewajiban untuk menyimpannya dan memanfaatkan secara hemat dan tepat guna.

|| Panggih: Dulangan

Dulang artnya suap.  Dulang artnya suap.  Merupakan lambang harapan, agar dalam kehidupan rumah tangga, suami istri bisa satu jiwa, apa yang menyenangkan sama dinikmati, yang menyusahkan sama ditahan. Yang sedap sama dicicipi, yang harum sama dihirup. Yang sakit tiba di mata sama dipicingkan, tiba di perut sama dikempiskan. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

5
1. Lempar Sadak ; 2. Wijidadi ; 3. Sindur ; 4. Nimbang ; 5. Kacar kucur ; 6. Dulang

Sekian “sekilas” pernikahan adat jawa. Bagaimana menurutmu? Bagaimana dengan adat dari sukumu? Bagikan ceritamu, ya..

Matur Suwun.

 


Sumber :

Pranata. 1984. “Mencari Jodoh & Upacara Pernikahan Adat Jawa”. Jakarta : TP YUDHA GAMA CORPORATION.

https://lubisgrafura.wordpress.com/f-kejawen/mengenal-tata-upacara-pengantin-adat-jawa/

http://health.liputan6.com/read/2249102/makna-setiap-kegiatan-dalam-tata-upacara-pernikahan-adat-jawa

Minangkabau

Senin sharing by :
Annisa Melinda Jamal


Minangkabau atau yang biasa disingkat Minang adalah kelompok etnis Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibu kota provinsi Sumatera Barat yaitu Kota Padang. Namun, masyarakat ini biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan “urang awak”, yang artinya sama dengan orang Minang itu sendiri.

Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang dikenal di dalam tambo (karya sastra sejarah yang merekam kisah-kisah legenda-legenda yang berkaitan dengan asal usul suku bangsa, negeri dan tradisi dan alam Minangkabau).

Dari tambo tersebut, konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing (biasa ditafsirkan sebagai Majapahit) yang datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau, yang berasal dari ucapan “Manang kabau” (artinya menang kerbau).

Rumah Adat

Di Minangkabau, rumah tempat tinggal dikenal dengan sebutan Rumah Gadang (Besar), atau kadang-kadang disebut juga dengan Rumah Bagonjong. Besar bukan hanya dalam pengertian fisik, tetapi lebih dari itu, yaitu dalam pengertian fungsi dan peranannya yang berkaitan dengan adat. Tingginya penilaian orang Minangkabau dengan rumah adatnya dikemukakan dengan kiasan atau perumpamaan berikut:

“Rumah gadang sambilan ruang, salajang kudo balari, sapakiek budak maimbau, gonjongnya rabuang mambasuik, antieng-antiengnyo disemba alang, parabuangnyo si ula gerang, batatah si timah putiah, rusueknyo tareh limpato, cucuran atoknyo alang babega, saga tasusun sarupo bada mudiek. Parannyo si ula gerang, batata aie ameh, salo-manyalo aie perak. Jariaunyo puyuah balari, dindieng ari dilanja paneh, tiang tapi panague jamu……”

Rumah Gadang didirikan di atas tanah kaum yang bersangkutan. Jika hendak didirikan, panghulu dari kaum tersebut mengadakan musyawarah terlebih dahulu dengan anak kemenakannya. Setelah dapat kata sepakat dibawa kepada panghulu-panghulu yang ada dalam persukuan dan seterusnya dibawa kepada panghulu-panghulu yang ada di “nagari” (negeri).

Untuk mencari kayu diserahkan kepada orang kampung dan sanak keluarga. Tempat mengambil kayu pada hutan ulayat suku atau ulayat nagari. Tukang yang mengerjakan rumah tersebut berupa bantuan dari tukang-tukang yang ada dalam nagari atau diupahkan secara berangsur-angsur.

Dilihat dari cara membangun, memperbaiki dan membuka (merobohkan) rumah gadang, ada unsur kebersamaan dan kegotongroyongan sesama anggota masyarakat tanpa mengharapkan balas jasa. Fungsi sosial sangat diutamakan dari fungsi utamanya.

Tari piring/Tari Piriang

minang8

Tarian ini menggambarkan rasa kegembiraan tatkala musim panen tiba. Para muda-mudi mengayunkan gerak langkah dengan menunjukkan kebolehannya dalam mempermainkan piring di tangannya. Ritual rasa syukur ini dilakukan oleh beberapa gadis cantik dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang diletakkan di dalam piring. Para gadis didandani dengan pakaian yang bagus lalu membawa makanan dalam piring tersebut dengan gerakan yang dinamis. Setelah Islam masuk Minangkabau, tradisi tarian ini tetap diteruskan, tapi hanya sebagai hiburan bagi masyarakat. Tarian ini diiringi musik talempong, rebab atau rabab dan saluang.

Alat Musik

Alat musik minang

  1. Talempong. Alat musik pukul tradisional khas suku Minangkabau yang satu ini entuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu.
  2. Saluang. Saluang termasuk alat musik tiup. Alat musik tradisional minangkabau ini terbuang dari ‘talang’ yang merupakan sejenis bambu tapi lebih tipis.
  3. Tambua Tasa. Alat musik pukul yang sampai saat ini masih sering digunakan, terutama pada saat acara adat. Alat musik ini terdiri dari dua alat yaitu Gandang Tambua dan Gandang Tasa.
  4. Rabab. Rabab adalah alat musik tradisional minangkabau yang mirip dengan biola. Dikatakan mirip karena dari segi bentuk memang hampir sama dan cara memainkannya pun sama yaitu dengan digesek.

Menarik, bukan? Masih ada banyak hal lagi yang seru tentang adat Minangkabau. Saya tambahkan beberapa bonus mengenai kebudayaan ini.

 

Baju Adat

baju adat minang

Kuliner

Bahasa Minang

  1. Ba a kaba? Lai aman-aman se? (Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan?)
  2. Untuk percakapan dengan teman, yang sering dipakai adalah kata “Awak”. Untuk sebutan yang lebih kasar (biasanya percakapan santai antar para pria), bisa pakai kata “Aden” (kata ini haram untuk diucapkan wanita). “Denai”. Bisa juga pakai “Ambo”, tapi jarang sekali digunakan.
    Perempuan lebih sering menyebut namanya daripada memakai kata “Awak”.
  3. Kamu
    Orang Padang menyebut lawan bicara langsung dengan nama mereka. Jadi mungkin (setahu saya) tidak ada kata “Kamu” dalam bahasa ini. Dalam bahasa Padang yang lebih kasar, mereka mengganti kata “Kamu” dengan “Ang”. Contoh: “Manga ang ka siko?” (Kenapa kamu kesini?)
  4. Dia = Inyo
  5. Sebutan untuk perempuan yang lebih tua atau dihormati = Uni
  6. Sebutan untuk pria yang lebih tua atau dihormati = Uda
  7. Uang = Pitih
  8. Perempuan = Padusi
  9. Jangan = Jan
  10. Beri = Agiah
  11. Celana = Sarawak
  12. Belum = Alun
  13. Sudah = Alah
  14. Saja = Se
  15. Besar = Gadang
  16. Apa = Apo, disingat A
  17. Bagaimana = Bagaimano, disingkat Ba
  18. Berapa = Barapo, disingkat Bara
  19. Dimana = Dimano, disingkat Dima
  20. Darimana = Dari mano, disingkat Dari ma
  21. Siapa = Siapo, disingkat Sia
  22. Kapan = Bilo
  23. Mengapa = Mangapo, disingkat Manga
  24. Kenapa = Dek a

Sekian perkenalan dengan adat Minangkabau. Mudah-mudahan kamu semakin bangga ya, dengan kekayaan budaya kita!


Sumber :

http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/07/pakaian-adat-sumatera-barat-padang-minangkabau.html

http://staff.unand.ac.id/ronisaputra/wp-content/uploads/sites/995/2014/06/

http://pesta-pernikahan.com/article/pengantin-koto-gadang-dari-minangkabau

https://taritradisional.wordpress.com/2013/08/03/properti-yang-digunakan-pada-tari-piring/

https://www.infosumbar.net/artikel/8-alat-musik-tradisional-minangkabau-yang-perlu-kamu-tahu/

Suku Sunda

Senin Sharing by :
Esa Apriansyah


Indonesia adalah negeri yang kaya budaya. Terdiri dari berbagai suku, membuat kita memiliki ribuan bahasa daerah dan adat istiadat yang berbeda. Saya sendiri (Esa) berasal dari suku Sunda. Dan dalam kesempatan ini, saya ingin berbagi pengetahuan tentang suku ini.

Picture3

ASAL KATA DAN PRINSIP

Menurut Rouffaer (1905: 16) kata Sunda berasal dari akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta, yang mempunyai pengertian bersinar, terang, berkilau, putih. Orang Sunda meyakini bahwa etos atau karakter Kasundaan adalah jalan menuju keutamaan hidup. Karakter yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa bagian barat sejak zaman kerajaan Kerajaan Salakanagara, kemudian diteruskan Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Pajajaran hingga kini.

UNGKAPAN-UNGKAPAN

Berikut ini beberapa ungkapan atau peribahasa yang dianut suku Sunda.

  • Kawas gula eujeung peueut yang artinya hidup harus rukun saling menyayangi, tidak pernah berselisih.
  • Mulah marebutkeun balung tanpa eusi yang artinya jangan memperebutkan perkara yang tidak ada gunanya.
  • Mulah ngaliarkeun taleus ateul yang artinya jangan menyebarkan perkara yang dapat menimbulkan keburukan atau keresahan.
  • Mulah nyolok panon buncelik yang artinya jangan berbuat sesuatu di hadapan orang lain dengan maksud mempermalukan.
  • Buruk-buruk papan jati yang artinya berapapun besar kesalahan saudara atau sahabat, mereka tetap saudara kita, orang tua tentu dapat mengampuninya.

 

MATA PENCAHARIAN

Mayoritas masyarakat Sunda berprofesi sebagai petani dan berladang. Ini disebabkan tanah Sunda yang subur. Sampai abad ke-19, banyak dari masyarakat Sunda yang berladang secara berpindah-pindah. Selain itu, orang Sunda biasanya memiliki jiwa seni yang cukup tinggi, sehingga banyak yang berprofesi sebagai seniman, baik itu seni rupa, seni musik, juga seni pementasan/teater. Hingga kini dunia entertain banyak didominasi oleh orang Sunda. Masyarakat Sunda juga berprofesi sebagai pegawai negeri, dokter, diplomat dan pengusaha.

MITOLOGI

CIUNG WANARA

Legenda ini adalah cerita rakyat Sunda untuk menjelaskan asal nama Sungai Pamali, serta untuk menjelaskan asal usul hubungan orang Sunda dengan orang Jawa; tentang dua bersaudara yang bersaing dan memerintah di pulau yang sama (Jawa).

POHACI

Nyi Pohaci Sanghyang Sri, atau dikenal juga sebagai Dewi Sri, merupakan seorang Dewi dari mitologi Hindu yang hadir dalam kebudayaan Sunda. Dewi Sri pada dasarnya mewakili kesuburan, atau mengatur pertanian dan semua bahan makanan pokok yang keluar dari perut bumi. Sehingga secara tidak langsung, ia turut berperan dalam kemakmuran dan kekayaan pula. Pada sistem kepercayaan Sunda kuno, Nyi Pohaci dianggap sebagai dewi tertinggi dan terpenting dalam masyarakat agraris. Fisiknya digambarkan sebagai gadis muda yang cantik, ramping namun sintal dan berisi, dengan wajah yang menyiratkan keanggunan dan keteduhan.

Picture2

FAKTA ORANG SUNDA

  • Mengganti huruf F jadi P

Pada dasarnya mayoritas bahasa daerah di Indonesia tidak mengenal konsonan F, begitupun dengan suku sunda. Sudah sejak nenek moyang terdahulu, suku Sunda tidak terbiasa melafalkan huruf F, sehingga diganti menjadi bunyi terdekat, yakni P. Contoh, manfaat menjadi mangpaat.

  • Lemah Lembut Berbicara dan Intonasinya

Orang Sunda terkenal dengan keramahan ketika menyapa dan bergaul dengan orang disekitarnya. Selalu mengedepankan senyum dengan sapaan yang khas yaitu “Neng” untuk wanita dan “Jang/Ujang” untuk pria yang lebih muda, atau jika ingin lebih sopan, gunakan “Teteh” untuk wanita dan “A/Akang” untuk pria.

  • Sunda Punya Kosa Kata Paling Banyak untuk berbagai tingkatan

bahasa Sunda kaya akan pembendaharaan kata, contoh “Makan” :

“Neda” = Untuk yang lebih tua, sangat sopan dan formal,

“Emam” = untuk orang tua ke anak kecil Sopan namun lebih kasual,

“Tuang” = Untuk sebaya atau sedikit lebih tua, sopan, ,

“Dahar“ = untuk teman sebaya sedikit kasar,

“Nyatu“ = untuk hewan, kasar,

“Ngalebok = bahasa sangat kasar,

“Jajablok“ = bahasa teramat sangat kasar.

Tak hanya tingkatan dalam bahasa, sistem keluarga pun memiliki sebutan khusus untuk setiap generasi. Berikut ini istilah dalam silsilah keturunan suku Sunda :

Anak (generasi 1) >> Euncu/Cucu (generasi 2) >> Buyut/Piut (generasi 3) >> Bao (generasi 4) >> Canggahwareng atau janggawareng (generasi 5) >> Udeg-udeg (generasi 6) >> Kaitsiwur atau gantungsiwur (generasi 7).

  • Orang Sunda Jarang Merantau

Salah satu ciri orang sunda adalah “jarang merantau”. Menurut pengalaman pribadi dan rekan-rekan terdekat, tanah Sunda memang nyaman sebagai tempat tinggal. Dari suhu udara, hingga kulinernya membuat para penduduknya merasa betah, sehingga enggan untuk merantau.

KULINER

Salah satu andalan terbaik suku Sunda adalah kulinernya. Dari makanan tradisionalnya, yakni cuanki, awug beras, peuyeum, surabi, hingga penemuan kuliner modern seperti brownies kukus, seblak, roti kukus, tahu bulat, dsb. Namun dari semua kuliner, jangan lupakan sambal terasi khas sunda, apalagi jika sebagai pendamping untuk nasi tutug oncom dan ayam gorengnya.

Jika kamu ke tanah Sunda dan tidak sempat mencicipi semua kulinernya, cobalah hidangan wajib orang sunda. Hidangan ini terdiri dari nasi panas, dipadukan dengan empal daging/ikan asin/ayam bakar/ikan gurame goreng; dampingi dengan pete, kangkung, tempe-tahu, sayur asem; dan yang paling wajib adalah lalaban dan sambel goreng terasi. Lengkapi dengan teh manis hangat. Hmm, dijamin nikmatnya!

Picture1

Sekian sekilas pembahasan dari saya mengenai suku Sunda. Apakah kamu seorang yang berasal dari tanah Sunda juga? Atau seorang yang pernah mampir di tanah Sunda? Bagaimana menurut pendapatmu mengenai suku Sunda? Tulis komentarmu di bawah ya!

 

Love Letter

Senin sharing by :
Annisa Melinda Jamal


Siapa yang tidak mengenal surat cinta? Mungkin hampir semua orang pernah mendapatkan atau menulis surat cinta. Bagaimana rasanya mendapatkan surat cinta? Beberapa orang menyebutkan :

  1. Deg – degan
  2. Senang
  3. Penasaran
  4. Ingin cepat membalas suratnya
  5. Dibuang
  6. Tidak mau langsung dibuka

Ternyata, surat cinta sudah digunakan dari zaman dulu. Surat cinta tertua di dunia yang pernah ditemukan berasal dari sekitar masa 2200 SM di lembah Niffer 150 km dari Kota Baghdad, Irak. Penemuan ini berdasarkan penggalian arkeologi sekitar tahun 1889 oleh Noah Kramer, Profesor dari Philadelphia University.

Picture1

Beberapa tokoh terkenal juga pernah menulis surat cinta, kita ambil contoh surat cinta yang sangat “dalam” dan romantis dari Ludwig Van Beethoven dan Presiden Indonesia yang ke-1 yaitu Soekarno.

Ludwig Van Beethoven (1770-1827), composer Simfoni no 9 yang terkenal itu, ternyata pernah memiliki hubungan asmara dengan seorang gadis. Sayangnya, sampai sekarang, gadis itu masih saja misterius, sama misteriusnya dengan kehidupan sang composer itu sendiri. Beberapa saat setelah kematiannya, surat – surat itu ditemukan tersimpan di dalam rak meja yang terkunci rapat. Pada surat itu tidak ditemui nama sang gadis ataupun alamat sang gadis. Tetapi, Beethoven menyebut wanita itu sebagai Immortal Beloved.

Picture2

Selanjutnya yaitu Soekarno. Semua pasti sudah tahu kalau Bapak Bangsa yang satu ini memiliki banyak istri. Tapi jarang ada yang tahu kalau salah satu proklamator kita ini pandai merayu. Seperti inilah rayuan Bung Karno dalam surat cinta yang ditulis kepada istrinya.

Soekarno 2

Soekarno

Alasan Kenapa Membuat Surat Cinta di Zaman Serba Teknologi :

  1. Di zaman yang serba cepat ini, surat cinta adalah cara untuk “memperlambat” waktu
  2. Surat cinta mampu menyampaikan yang tak terungkap oleh lidah
  3. Lewat tulisan, si pembaca surat akan lebih mengenal penulis suratnya
  4. Surat cinta gak butuh balasan instan, ia cuma butuh balasan tulus.
  5. Nggak perlu khawatir ungkapan sayang kita terkubur di inbox hp
  6. Bisa mengirimkan wewangian melalui surat cinta
  7. Banyak hal bisa diungkapkan oleh sepucuk surat cinta
  8. Melestarikan bahasa indonesia dan sastra indonesia
  9. Surat cinta mampu membantu mencairkan ketegangan dalam hubungan

Di senin sharing kali ini, kami di tujusemesta ditantang untuk membuat surat cinta. Surat cinta ini dibuat bersama – sama dengan cara melanjutkan kata – kata dalam surat cinta yang sebelumnya ditulis oleh penulis lain. Hasilnya, dari surat cinta yang seharusnya romantis dan serius menjadi tidak serius dan lucu. Berikut ini beberapa hasil kreativitas kami dalam menulis surat cinta.

semesta 1

Untuk semesta yang selalu menjagaku siang dan malam, yang tak tertidur walau gelap menyelimuti.
Aku ingin menyampaikan rasa dan asa ini, yang sudah terlalu lama usang, mengendap dalam satu jiwa yang rapuh.
Walaupun aku tak pula yakin apakah engkau bisa meluruhkan kegalauan di hati ini.
Tapi ku percaya semesta ini dapat membuat hidupku membaik.
Karena engkau selalu menjagaku walau terik siang menyengat, walau dingin malam menusuk.
Tahukah engkau wahai semesta, dingin apa yang paling dingin? Yaitu dia, Semesta.
Itu adalah 0°K yang berhasil dibuat menggunakan teknologi laser “cooling” beberapa tahun yang lalu.
Maaf karena aku terlalu logis tak bisa mengakhiri kalimat cinta yang mendalam.

Dari,

 Om Qodir

 semesta 2

 Hai! Para pembuat mimpi, kok bisa sih buat mimpi?
Karena engkaulah tidurku rindu akan yang namanya lelap. Pijar lampu dan lukisan di dinding seakan menertawakan pikiranku.
Sejenak ku kembali tersadar, sebenarnya tentang apakah semua tulisan ini? Antara sebuah mimpi dan kesadaran yang nyata.
Sejenak pula ku untuk kembali tidur, ini masih jam 2 malam.
Sesaat kemudian, aku terbangun kembali, kemudian tersadarlah bahwa aku mengalami “inception”.
Para pembuat mimpi yang baik, inikah caramu berkelakar?
Lalu kemudian aku tersadar bahwa aku sedang tidak sadar.
Ah, yasudahlah. Mending dipikirin lagi besok pagi. Da masih ngantuk.

Bandung, Jam 2:05 Pagi

 semesta 3

Indonesiaku kemana menuju…
Ku terlahir di ujung timurmu,
Ku besar di tengah perutmu,
Dan ku kelak mati di ujung baratmu.
Namun dimanapun ku menetap di Indonesia,
engkau selalu menawan hatiku.
Indonesia boleh menawan hatiku, namun engkau telah memenjarakan hatiku di dalam hatimu.
Kenapa Indonesia? Kenapa hatiku ditawan segala?
Ya mungkin kalimat terakhir ini kalimat para koruptor yang tidak memilikimu.
Tetapi lihatlah masih banyak jiwa yang setia dan berani berkorban untuk dirimu.
Yaitu mereka yang kau beri nikmat atas mereka dan bukan yang kau murkai lagi sesat

Randy

 semesta 4

 Untuk Rocky, kucingku

Rocky, kamu adalah hewan terlucu dirumahku.
Lucu dalam berbagai arti. Tahukah kalian arti arti apa yang tidak berarti? Mereka adalah “artificial”.
Tapi Rocky, kamu tidak “artificial”, kamu 100% organik, tanpa perasa tambahan.
Rocky tahukah kamu bahwa ikan sekarang sudah anorganik, kamu sekarang harus makan apa?
Mungkin Tuhan marah, marah kepada Rocky karena kamu suka menyimpan sifat mubazir.
Coba tengok kucing lain yang mengais mencari makanan.
Walaupun mereka hanyalah kucing – kucingan belaka, mereka sering mandi kucing, mereka makan nasi kucing, mereka tetaplah temanmu Rocky. Janganlah engkau benci mereka itu.

Majikan-mu

 

“Yuk mulai menulis surat cinta lagi! Karena semua mahluk hidup di semesta butuh cinta”