Materials Reinvented (1) | Mycelium Composite

Telaah Design Vol. 3

Bandung Creative Hub, 8 Juli 2018
Pembicara :
Pradipta Adi Surya, Founder of Tech Prom Lab
Ronaldiaz Hartantyo, Co-Founder of Mycotech

Dari sekian tahun dalam hidup kita, coba diingat kembali, sudah melewati teknologi apa saja? Teknologi yang paling mudah terasa adalah teknologi komunikasi. Pada zaman belum ditemukannya kertas, nenek moyang kita berkomunikasi jarak jauh dengan asap. Lalu, setelah ada kertas, komunikasi bisa lebih jelas melalui surat. Kemudian, beralih ke telegraf sehingga pesan lebih cepat diterima. Setelah itu, muncullah telepon dan dengan alat ini kita bisa berkomunikasi langsung secara verbal. Kemudian beralih ke pager lalu handphone. Dari yang hanya bisa sms dan telepon, hingga kini bisa video call dan update social media. Dan entah penemuan apa lagi yang muncul dalam beberapa tahun ke depan.

Ini baru di bidang komunikasi. Belum lagi dalam teknologi pangan, sandang, papan, transportasi, dan sebagainya. Dan sadarkah kamu bahwa canggihnya sebuah teknologi salah satunya disebabkan karena kecanggihan bahan bakunya?

Pada Telaah Desain Vol. 3 ini,  Mas Aldi dari Mycotech dan Mas Adi dari Techprom Lab akan berbagi mengenai bahan baku baru sebagai hasil penelitian keduanya bersama tim masing-masing. Ada jamur yang bisa berfungsi sebagai bahan baku alternatif pengganti kayu, bambu, bahkan plastik dan aspal berpori yang anti banjir .

Mycelium Composite

oleh Ronaldiaz Hartantyo (MYCOTECH)
From Mining to Cultivation, Exploring Mycelium Based Composite Material as Living Architecture

MYCOTECH memulai langkahnya di tahun 2012 sebagai produsen pengembang sumber pangan dari jamur. Namun dalam perjalanannya, mereka menemukan bahwa jamur ternyata sebuah materi yang kuat dan unbreakable. Dari sana kemudian mereka mengembangkan penelitiannya, dari skala laboratorium hingga kini menjadi pilot project.

Mycelium adalah jaringan akar dari jamur, matriks yang dapat tumbuh dengan cepat dan dapat bersifat selayaknya perekat alami. Sebagai produk yang mencerna limbah, seperti serbuk gergaji, jaringan hifa miselium yang padat merekat substrat menjadi sebuah material yang aktif secara struktural. Ketika mycelium memasuki siklus metabolisme, elemen bangunan atau seluruh bangunannya dapat difungsikan sebagai kompos pasca penggunaannya. (dikutip dari laman resmi KIT Karlsruhe Institute of Technology: https://nb.ieb.kit.edu/?p=5112)

Keunggulan Mycellium Composite :

  • Proses produksinya menggunakan sedikit energi
  • Insulasi baik
  • Tahan api
  • Ringan
  • Allergen-free
  • Meredam suara dengan baik
  • Dapat mengikuti bentuk rancangan
  • Dapat diatur terang-gelapnya
  • Memiliki motif yang selalu berbeda
  • Dapat diatur kekerasan hingga kelenturannya
  • dsb.

MYCOTECH telah merealisasikan Mycelium Composite ini menjadi sebuah produk yang dinamakan BIOBO.

BIOBO

Salah satu visi MYCOTECH adalah menciptakan material bangunan yang berkelanjutan dan sehat bagi penghuninya. Mereka mewujudkannya pada BIOBO, yakni sebuah papan mycelium composite berukuran 30 x 30 cm yang tidak menggunakan kimia berbahaya sebagai perekatnya. 

Sumber foto : https://www.mycote.ch/

Tekstur permukaan mycelium menjawab kebutuhan para arsitek dan desainer dengan bentuk dan fungsinya yang sangat lihai. Mycelium dapat dikombinasikan untuk menciptakan motif struktural yang sangat unik dan meremajakan bangunan perumahan, industrial, dan ruang publik. Tidak ada lagi papan komposit yang beracun. (dikutip dari laman resmi mycotech : https://www.mycote.ch/biobo)

Deliver Case #01 Rumah Tumbuh Batam

BIOBO telah diaplikasikan pada sebuah project di Batam, yakni Rumah Tumbuh Batam. Dengan sifat mycelium yang dapat menghantarkan listrik, maka dinding yang terbuat dari BIOBO langsung terhubung dengan listrik dan wifi, sehingga tidak diperlukan instalasi tambahan (konsep smart-wall).

Capture
Sumber Foto : https://www.mycote.ch/

Deliver Case #02 Pabrication Seoul Biennale 2017

Berawal dari kekhawatiran mengenai ketersediaan bahan baku bangunan yang semakin tipis, The Professorship of Sustainable Construction Dirk E. Hebel dari Karlsruhe Institute of Technology dan the Block Research Group (BRG) dari Swiss Federal Institute of Technology (ETH) Zürich berkolaborasi dan menggabungkan pengetahuan mereka untuk menyelesaikan masalah ini. Menggandeng Mycotech sebagai Production Partner, diadakanlah sebuah pameran di Donuimun Museum Village, Seoul, Korea Selatan.

Memanfaatkan material yang regeneratif seperti mycelium dan bambu, serta menggunakan desain berbentuk polyhedral dan diagram tenaga yang menopang secara struktural, project ini berhasil menahan beban 4 ton selama 4 bulan; dengan hasil perekat rangka tetap kokoh dan tidak runtuh.

Modular Mycelium Composite sebagai struktur Mycotree. Sumber Foto : https://nb.ieb.kit.edu
The Mycotree in Seoul Biennale. Sumber Foto : https://www.treehugger.com

Proses lengkapnya bisa dilihat di sini :

Mycelium Series

Mycelium ternyata memang dapat dieksplorasi dengan luas. Tidak hanya bisa difungsikan sebagai struktur bangunan dan elemen interior, tapi juga elemen kecil seperti dial pad dalam sebuah jam tangan. Produknya dinamakan Way Kambas Watch milik Matoa. Produk ini sudah mendapatkan paten di Indonesia pada tahun 2017.

Sumber Foto : https://www.mycote.ch/

Material ini terbukti bisa direkatkan dalam berbagai bentuk dan ukuran. Yang menjadikan mycelium spesial dibandingkan bahan baku lainnya ialah material ini sudah dikembangkan instalasi listrik dan IT. Belum lagi penggunaan limbah pertanian yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatannya.

Setelah produk ini diluncurkan, MYCOTECH menerima banyak permintaan dari masyarakat pulau-pulau terpencil, misalnya Hawaii. Masyarakat di sana mengeluh karena harga semen sangat mahal, tetapi mereka membutuhkan rumah. Mycelium Composite dapat menjadi solusi karena hanya dengan limbah pertanian, seperti tapas kelapa atau batang tebu yang sudah diperas, sebuah bahan bangunan pengganti semen dapat tersedia. Kini, MYCOTECH mengemban misi untuk mengubah konsep “Let’s Build Our House” menjadi “Let’s Grow Our House”.

Mycelium merupakan sebuah bahan baku yang sangat banyak kemungkinan pengembangannya. Dapatkah kamu membayangkan produk lainnya yang dapat diproduksi dari Mycelium Composite? Dan kita belum membahas penemuan bahan baku lainnya yang tak kalah canggih : poreblock, paving block yang anti banjir. Simak di blog berikutnya ya!

(…bersambung)

 

Advertisements

Design & Research (1) | Sidedness & Design

Telaah Desain Vol. 1

Bandung Creative Hub, 5 Mei 2018

Pembicara :
Andi Abdulqodir, Founder Tujusemesta & Left Hander Researcher
Deny Willy, Scientific Comitee for Reputable International Conferences & Journals

 

Kita mengetahui bahwa tubuh kita terdiri dari 2 sisi : kiri dan kanan.  Namun, sadarkah kamu bahwa kesisian ini sangat mempengaruhi aktivitas keseharian kita, dan kemudian berlanjut pula pada desain. Hal ini sangat dirasakan jika kamu seorang kidal atau left-hander. Berbagai benda buatan manusia di dunia ini mayoritas diperuntukkan bagi non kidal atau right-hander. Contohnya :

1. Stick Play Station

Pada Stick PS, kendali arah di sebelah kiri dan kendali aksi di sebelah kanan. Artinya, tangan yang lebih aktif adalah tangan kanan karena jemarinya sering berpindah dan melakukan gerakan repetisi; sedangkan tangan kiri lebih cenderung konstan dan memiliki durasi lama dalam menekan sebuah tombol arah. Sehingga agak menyulitkan bagi kidal yang tangan kanannya tidak dominan.

2. Kemudi Mobil

Kemudi kanan pada mobil memiliki dampak besar untuk terjadi tabrakan dibanding dengan kemudi kiri pada mobil. Namun tabrakan yang terjadi dalam kondisi kemudi kanan akan lebih ringan dibandingkan kemudi kiri. (Cooper, 2008)

3. Penggaris

Anatomi bahu dan siku tangan membuat para non kidal menggaris dari kiri ke kanan, sedangkan para kidal dari kanan ke kiri. Sehingga seringkali para kidal tidak mengetahui ukuran centimeter yang telah digaris karena terhalang oleh tangannya sendiri.

Dan masih banyak lagi benda yang ternyata didesain untuk pengguna tangan kanan : gitar, gunting, cutter, sarung tangan baseball, mouse, dsb. Sebelumnya, mari kita cari tahu, mengapa seorang kidal sangat dianaktirikan?

Dalam populasi dunia, kidal dan non kidal memiliki perbandingan 1:9, walaupun seiring waktu, populasi kidal semakin besar. Dibalik ini, siapa yang sering mendengar bahwa menggunakan tangan kiri adalah “dosa”?

kidal 1

Atas pernyataan inilah, populasi kidal ditekan sehingga banyak yang sebenarnya terlahir sebagai kidal, namun ia kemudian beralih ke non kidal. Dan kemudian atas pertimbangan mayoritas populasi, desain produk-produk diperuntukkan bagi para non kidal. Tanpa memperhatikan bahwa kidal juga memiliki aktivitas yang sama dengan non kidal dan membutuhkan peralatan yang sama pula–namun dengan kesisian yang berbeda.

Penelitian saya berawal dari pertanyaan ini : apakah desain produk bagi orang kidal semudah membalikkan desain untuk para non kidal? Jawabannya : tidak semua. Saya kemudian memfokuskan penelitian pada sebuah produk saja, yakni kursi kuliah.

kidal 2.jpg
(i) Cara Non Kidal menggunakan kursi kuliah ; (ii) Cara Kidal menggunakan kursi kuliah ; (iii) Cara lain Kidal menggunakan kursi kuliah

Bagi para non kidal, kursi ini terasa biasa saja. Namun bagi para kidal, fungsi tumpuan lengan pada kursi ini sangat penting. Ketika tidak ada, maka menimbulkan masalah baru. Terutama pada saat ujian ataupun psikotes, kursi ini sungguh menambah tekanan. Sebelum mencari solusinya, mari kita tarik mundur ke belakang dan melihat bagaimana aktivitas menulis dan menggambar pada kidal dan non kidal.

Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, yakni penelitian yang semua hasil datanya terhitung dalam angka sebagai hasil kuesioner responden. Saya menarik hasil dari 7 orang responden kidal dan 7 orang responden non kidal untuk membandingkan aktivitas dalam menggambar dan menulis. Kemudian, diperoleh simpulan sebagai berikut :

  1. Responden kidal cenderung memilih derajat kemiringan kertas yang tidak begitu besar (lebih tegak) dibandingkan responden non kidal yang bahkan kemiringan kertasnya bisa mencapai hampir 40°.
  2. Responden kidal lebih sering mengangkat/memindahkan posisi tangan setiap beberapa kata, sedangkan responden non kidal lebih stabil dalam menulis.
  3. Responden non kidal membutuhkan ruang untuk menulis yang tidak begitu banyak dibanding responden kidal.
  4. Responden kidal memiliki tingkat ketidaknyamanan yang lebih kecil dibanding responden non kidal.

Simpulan terakhir sangat menarik karena dengan kondisi yang lebih terbatas, orang kidal memiliki tingkat adaptasi yang tinggi dibandingkan non kidal. Disebabkan pula oleh kondisi lingkungan kesehariannya bahwa mereka lebih sering menggunakan produk yang diperuntukkan bagi non kidal.

Dari hasil-hasil tersebut, kursi kuliah tidak bisa hanya dengan membalikkan desain sebelumnya. Solusi kursi kuliah bagi orang kidal adalah sebagai berikut :

kidal 3.png
A. Membalik desain dan menambah lebar tumpuan siku ; B. Menggunakan tumpuan duduk yang dapat diputar, sehingga para kidal dapat memiringkan badannya
kidal 4.png
C. Menambah lebar meja untuk ruang kertas kerja, sehingga ruang selebihnya dapat menjadi tumpuan pergelangan tangan kiri ; D. Mirip seperti C namun dengan penggalan pada bagian siku sehingga tidak membutuhkan ruang yang terlalu besar ketika memutar meja.

Dalam mendesain, kita harus memperhatikan user. Tentu saja mayoritas yang diutamakan, namun bukan berarti kaum minoritas tidak diperhatikan bukan? Terutama jika menyangkut keselamatan kerja.

Semoga sharing kali ini dapat menginspirasi dalam berbagai hal.